*Penyakit Istibtha’*
_Assalamualaikum Warohmatullah Wabarakatuh_
_Bismillahirrahmanirrahim_
_Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammad waala ali Sayyidina Muhammad_.
Teteh-teteh salehah para calon bidadari surga, tulisan kali ini belum pas kalau disebut sebagai “Materi”, karena ini hanya bentuk cerita dari pengalaman hidup seorang hamba Allah yang masih jauh dari kata “Salehah” dan masih berusaha menjadi salehah.
Teteh-teteh semua, mungkin sudah tidak asing ya dengan kata “Sukses”, tapi apa kita sudah paham arti dan ukuran sukses menurut versi terbaik diri kita sendiri?
Mungkin ada yang sudah, dan ada yang belum ya.
Ternyata bahaya sekali kalau kita tidak tahu ukuran sukses versi kita seperti apa.
Andai kita semua paham bahwa setiap diri punya versi kesuksesan yang berbeda, mungkin tidak akan ada yang namanya iri, dengki, bahkan penyakit _*istibtha’*_.
Apa itu penyakit _Istibtha’_?
Penyakit _istibtha’_ adalah penyakit yang sering tanpa terasa ada dalam diri manusia.
Semoga tidak ada di antara kita, ya… _aamiin_
Penyakit _istibtha’_ sendiri adalah penyakit yang berbentuk keinginan sukses sebelum waktunya.
Betapa banyak teman-teman kita yang mungkin terjangkit penyakit ini, bagaimana contohnya?
Salah satu contoh dan akibatnya yang berkaitan dengan fenomena di kehidupan zaman milenial ini adalah mengesampingkan RIBA dalam bentuk kehidupan sehari-hari, misalnya belum waktunya punya uang banyak tapi karena keinginan _”yang penting gue punya uang banyak”_.
Alhasil ikut-ikutan main judi _online_ merembet ke main pinjaman _online_, _na’udzubillahi min dzalik._
Padahal Allah sudah jelas mengharamkan praktik riba dengan tegas dalam QS Al-Baqarah: 275,
_”Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan Riba.”_
Karena keinginan sukses sebelum waktunya, jadi melanggar syariat dan terjerumus ke dalam riba.
Menganggap semua masih bisa diatasi sendiri, padahal lupa semua ketentuan ada di tangan Allah, bahkan satu detik, satu menit ke depan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita.
Seringkali kita berpikir saat Allah uji dengan kesempitan ekonomi, _”udah buntu gak ada yang mau kasih pinjaman, ya sudahlah pinjam online saja.”_
Dengan alibi untuk menutup kebutuhan sehari-hari, namun kita lupa Allah menciptakan kita dengan sempurna, dibekali akal dan otak untuk berpikir, tanpa kita memaksimalkan pemberian Allah kita langsung gas ke jalan pintas yang melanggar syari’at.
Akibatnya, tanpa terasa makin jauh dari dekapan Allah, makin terasa hidup semakin susah karena riba, nyaris gila setiap hari.
Namun, Allah masih baik banget sama hamba-Nya, kita masih diberi kesempatan bangun dari tidur, supaya kita bertaubat dan kembali kepada Allah Sang Pemegang Kehidupan.
Demi Allah, ada di fase ini adalah penyesalan yang tidak akan pernah terlupakan, menangis karena malu dengan Allah.
Bersyukur kalau sudah sampai di fase itu, artinya hati kita mulai terketuk oleh hidayah Allah, hati kita tidak mati, tidak tertutup sepenuhnya oleh bercak-bercak hitam dosa kita.
Teteh-teteh,
Kita memang tidak pernah tahu kapan waktunya kita sukses, tapi Allah Mahatahu kapan waktu yang tepat untuk kita sukses, barangkali kalau kita sukses di waktu yang belum tepat kita bisa jadi manusia yang sombong yang tidak bisa masuk ke dalam surga-Nya Allah.
Kita hanya perlu berusaha sekuat dan semaksimal kita dengan tetap dalam syariat, serta jangan putus berdoa, maksimalkan jalur langit dan buminya, ubah _mindset_ kita untuk tidak mengukur kesuksesan orang lain dan mengandalkan orang lain.
Maksimalkan potensi diri kita dan berpikir lebih luas, lebih dinamis, perbanyak lagi syukurnya, usahakan husnuzan selalu dengan semua rencana Allah, percayalah Allah sebaik-baiknyaaa perencana.
Semoga Allah senantiasa meridai setiap langkah kebaikan kita ini.
_Aamiin Ya Allah …._
Referensi: _muslimcreatorclass_
Hani Chairun Nisa
Alumnus SWTD _Part_ 93
_Employee of Allah_

Tinggalkan komentar